Kamis, Maret 31

Anelka: Kehidupan di Madrid Berat untuk Saya

Nicolas Anelka mengaku tidak pernah menyesal meninggalkan Real Madrid.
Stiker asal Prancis yang sekarang merumput bersama Chelsea itu sebelumnya pernah menghabiskan satu tahun di Madrid, tepatnya pada 1999 hingga 2000 silam usai kiprah menawannya bersama Arsenal.
Saat berkosotum Los Blancos performanya menurun drastis dengan hanya mencetak dua gol dari 19 penampilan. Bandingkan dengan torehan golnya yang mencapai 23 saat masih merumput di Higbury selama dua tahun.
"Saat anda datang dari Inggris, segala pendekatan di lapangan serta kehidupan anda akan sangat berbeda di Spanyol," ujar Anelka dikutip dari Chelsea.com.
 "Saya tidak menyadari itu, tentu itu sangat sulit untuk saya karena saya ingin memilki kehidupan sederhana dan bisa dengan bebas berjalan di jalanan layaknya orang lain, namun saya tidak bisa melakukan itu di Madrid seperti yang saya lakukan di London."
"Ini merupakan bagian paling berat dalam hidup saya, saya tidak ingin pergi kesana layaknya bintang besar, tentu di lapangan iya, tapi di luar lapangan saya ingin segalanya normal seperti orang lain. Tujuan saya bukan berada di berita koran setiap hari seperti Galactico, dan mereka ingin saya menjadi seperti itu, jadi itu masalah untuk saya," lanjut pria berusia 32 tahun itu.
"Saat itu benar-benar sulit di lapangan, karena saya merasa kesulitan di luar lapanagan. Saya tidak pernah bisa menjadi apa yang saya mau, jadi saat saya merasa terganggu di luar maka saya juga tidak bagus di lapangan."
Meski mengaku sulit dan tidak suka hidup disana, namun ada momen spesial yang hadir ketika ia membawa Madrid meraih juara Liga Champion usai menundukan Valencia di partai final.
"Meski sulit, tapi bisa dikatakan ada momen indah karena kami berhasil meraih juara Liga Champion dan saya mencetak gol di semifinal. Tapi seperti saya katakan, itu adalah tahun yang berat," tuntasnya.

Anelka memang hanya bertahan satu tahun di Bernabeu. Ia kemudian meredup sebelum mulai terdengar kembali namanya tahun 2002 saat membela Manchester City. Setelah sempat membela Bolton Wanderers 2006-2008, ia memutuskan kembali ke London.
Kali ini bukan bersama Arsenal, melainkan rivalnya, Chelsea. bersama The Blues ia mulai menemukan bentuk permainan terbaik hingga saat ini. Ya, ibu kota Inggris itu sekan menjadi jodohnya.