Minggu, April 3

Anjing Gila Timur Tengah

MUAMMAR KHADAFI memulai kekuasannya ketika dia memimpin kudeta militer tak berdarah pada tahun 1969, Khadafi muda waktu itu adalah perwira mudah yang gagah berani. Dia berkharisma dan sangat berpengaruh di antara para perwira lainnya.
Pengikut Presiden pertama Mesir Jamal Abdul Naser (dia bahkan ikut memakai pangkat militer yang sama, mempromosikan dirinya dari kapten menjadi kolonel setelah kudeta), Khadafi pertama-tama menetapkan cara mengatasi warisan ketidakadilan ekonomi yang waktu itu sangat dikuasai oleh pihak asing.
Bagi Nasser, ketidakadilan itu adalah Terusan Suez. Bagi Khadafi, ketidakadilan itu adalah minyak.
Cadangan minyak ditemukan di Libya pada akhir tahun 50-an, tetapi pengeksploitasiannya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan minyak asing. Mereka inilah yang menentukan harga sesuai dengan kebutuhan konsumen di dalam negeri mereka masing-masing. Selain itu para pengusaha asing itu menikmati setengah dari pendapatan.

Kolonel Khadafi menuntut perundingan ulang kontrak-kontrak itu dan mengancam akan menutup produksi jika perusahaan-perusahaan itu menolak.
Istilah Khadafi yang terkenal dalam mengancam perusahaan-perusahaan minyak asing adalah "orang yang selama 5.000 tahun hidup tanpa minyak, masih bisa hidup tanpa minyak selama beberapa tahun lagi demi memperoleh hak mereka kembali".
Langkah itu berhasil dan Libya menjadi negara berkembang pertama yang mendapatkan bagian mayoritas dari pendapatan produksi minyak di negaranya. Negara-negara lain kemudian mengikuti preseden ini dan pada tahun 1970-an boom minyak Arab dimulai.
Libia berada dalam posisi paling strategis untuk menikmati keuntungan. Ketika itu tingkat produksinya sudah menyamai negara-negara Teluk dan Libya saat itu adalah negara terkecil di Afrika (dengan tiga juta penduduk pada saat itu), Libia dengan cepat meraup emas hitam ini.
Khadafi tidak mengikuti doktrin nasionalisme Arab atau menunjukkan konsumerisme berlebihan yang melanda kawasan Teluk saat itu. Karena itulah Libia menjadi negara makmur di Timur Tengah.
Karakternya yang lincah mengantarkan dia dan Libia ke jalan yang baru.
Terlahir dari orang tua Badui yang nomaden pada tahun 1942, Muammar Khadafi jelas seorang pria yang pintar, penuh akal tetapi dia tidak menjalani sistem pendidikan yang ketat, selain belajar membaca Al-Quran dan latihan militer.
Walau begitu, awal tahun 70-an dia membuktikan diri sebagai filusuf politik terkenal, mengembangkan satu teori bernama teori universal ketiga yang dipaparkannya secara mendalam dalam buku terkenalnya Green Book, Buku Hijau.
Teori dia menyelesaikan kontradiksi yang ada secara melekat dalam kapitalisme dan komunisme, guna mengantarkan dunia ke revolusi politik, ekonomi dan revolusi sosial dan membebaskan kalangan tertindas di manapun.
Berkat nihilnya tentangan terhadap pemerintahannya di dalam negeri, Khadafi berhasil membawa kampanyenya menentang imperialisme ke seluruh dunia.
Dia mendanai dan mendukung kelompok-kelompok militan dan gerakan perlawanan kemerdekaan di manapun yang dia temui.
Jika banyak pemerintah tidak memperdulikan catatan hak asasi manusia mereka di dalam negeri dan menghukum para pembangkang di luar negeri, tindakan mendukung kelompok-kelompok perlawanan adalah masalah lain.
Satu pemboman di sebuah klub malam yang digunakan oleh para tentara Amerika Serikat di Berlin tahun 1986, yang dianggap dilakukan oleh agen Libia, terbukti merupakan titik balik.
Presiden Amerika Serikat (saat itu) Ronald Reagan memerintahkan serangan udara ke Tripoli dan Benghazi sebagai balasan atas kematian dua tentara Amerika di klub malam itu. Walaupun, sampai saat ini, tidak ada bukti pasti kecuali hanya "obrolan kabar burung" bahwa Libia memerintahkan serangan klub malam itu.
Pembalasan Amerika itu bertujuan untuk membunuh pria yang oleh Amerika diberi julukan Anjing Gila Timur Tengah, seperti Reagan menjuluki Khadafi.
Walau kerusakan parah dan sejumlah orang tewas, termasuk putri angkat Khadafi, pemimpin Libia itu justru muncul semakin kuat. Reputasi dia bahkan semakin bersinar di antara para penentang kebijakan luar negeri Amerika yang terlalu keras.
Pemboman penerbangan Amerika Pan-Am nomor 103 di atas kota Lockerbie, Skotlandia, pada tahun 1988 mempertegas sikap Amerika terhadap Libia. Pemboman ini menewaskan 270 orang penumpang dan orang-orang yang ada di Lockerbie, ini adalah aksi terorisme terbesar yang pernah terjadi di Inggris Raya. Lagi-lagi Libia dituudh sebagai dalang pelakunya.
Keputusan Khadafi menolak menyerahkan dua tersangka Libia ke aparat hukum Skotlandia, melahirkan sanksi-sanksi PBB terhadap Libia dan proses perundingan yang panjang. Akhirnya perseteruan itu berakhir tahun 1999 setelah Libia penyerahan kedua tersangka tersebut dan pengadilan terhadap mereka dilakukan.
Salah satunya, Abdelbaset Ali al-Megrahi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, tetapi seorang lagi dinyatakan tidak bersalah.
Penyelesaian kasus Lockerbie bersama-sama pengakuan Khadafi soal program senjata pemusnah massal dan senjata nuklirnya yang tersembunyi dan keputusan dia untuk menghentikannya, membuka jalan bagi perbaikan hubungan Libia dengan Barat.
Namun 'anjing gila' yang mulai jinak itu kembali marah melihat intervensi militer pimpinan Amerika semasa Presiden George W Bush di Irak tahun 2003. Menurut berita, Khadafi menonton nasib Saddam Hussein yang mati digantung oleh warga Irak dan dia memetik pelajaran penting dari kasus ini.