Selasa, April 5

Saif Khadafi Siap Gulingkan Ayahnya

WASHINGTON - Ketegangan politik di Libya memuncak. Tak hanya orang-orang kepercayaan Moammar Khadafi yang membelot, dukungan putra-putranya juga mulai terpecah. Dua putra Khadafi, Saif al-Islam el-Khadafi dan Saadi el-Khadafi mengusulkan transisi ke negara demokrasi sekaligus mengakhiri kekuasaan sang ayah. Berdasarkan sumber internal di Libya, Saif (38) siap menggulingkan ayahnya agar reformasi terjadi secepatnya.
Seorang diplomat kepada The New York Times, Selasa (5/4) mengungkapkan usul perubahan konstitusi Libya menjadi negara transisi ke demokrasi dipelopori Saif Khadafi
 Namun belum jelas apakah Khadafi tua mendukung usul anaknya tersebut. Sumber yang dekat dengan Saif dan Saadi menjelaskan, Khadafi sepertinya bersedia mengikuti usul kedua putranya itu.
Saif dan Saadi, menurut diplomat ini, ingin bergerak cepat mengubah negaranya tanpa keterlibatan ayahnya lagi. Hanya tak semua anak Khadafi bersuara bulat untuk mengubah konstitusi, termasuk menyingkirkan ayahnya dari kursi kekuasaannya.
Khamis Khadafi, Komandan Pasukan Khusus Brigadir (yang dikabarkan meninggal, tapi kemudian terbukti masih hidup-Red) dan Mutuassim Khadafi , penasihat keamanan nasional, tidak sependapat dengan Saif dan Saadi. Bahkan Mutuassim diperkirakan akan bersaing dengan Saif merebut kursi kekuasaan ayahnya.
Penolakan atas ide dua anak Khadafi juga datang dari perwakilan kelompok penentang Khadafi, Ali al-Essawi. Dari Roma, Essawi, mantan Duta Besar Libya untuk India, kemarin menjelaskan, rakyat Libya tak akan dapat menerima pergantian kekuasaan dari Khadafi kepada anak-anaknya. "Sejumlah inisiatif politik yang tidak termasuk dengan kepergian Khadafi tidak dapat diterima," ujarnya.
Kemarin utusan Libya melakukan negosiasi dengan pejabat tinggi beberapa negara, seperti Inggris dan Italia, tentang upaya mengakhiri perang berdarah di negara yang kaya akan minyak tersebut. Abdulati al-Obeidi, Menteri Luar Negeri Libya yang menggantikan Moussa Koussa, bertemu dengan Perdana Menteri Yunani George Papandreou di Athena.
Libya, kata Obeidi, lebih menginginkan penyelesaian politik daripada penyelesaian secara militer antara kelompok penentang Khadafi dan pasukan pro-Khadafi. Penyelesaian militer saat ini dinilai tidak memungkinkan. "Utusan Libya ingin menyampaikan bahwa Libya menginginkan negosiasi," kata seorang pejabat mengutip pernyataan Obeidi seusai pertemuan. Usul penyelesaian politik ditolak oleh Italia. Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini mengatakan satu-satunya cara penyelesaian adalah Khadafi turun takhta dan keluar dari Libya.
"Solusi bagi masa depan Libya dengan prakondisi bahwa rezim Khadafi pergi dan keluar serta Khadafi sendiri beserta keluarganya meninggalkan negara itu," kata Frattini, yang juga menolak usul putra Khadafi tentang perubahan konstitusi untuk demokrasi.
Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan tidak ada strategi jalan keluar untuk Qadhafi sehubungan dengan kunjungan utusan Libya ke Turki dan Malta kemarin. Inggris hanya meminta Qadhafi melepaskan kekuasaannya dan membawanya ke Pengadilan Kriminal Internasional.
Sementara, perpecahan juga terjadi di tubuh kelompok anti-Khadafi. Disaat keberuntungan pasukan oposisi Libya di medan pertempuran terus merosot, tiga pria yang bertanggung jawab atas pasukan ini dipanggil untuk dimintai keterangan. Namun disaat pertemuan, ketiganya justru saling bersitegang.
Abdul Fattah Younes, Khalifa Heftar dan Omar el-Hariri adalah tiga tokoh yang bertanggung jawab atas pergerakan pasukan oposisi. Ketiganya dimintai keterangan oleh komite politik pihak oposisi Libya.
Pertemuan untuk mencari pemecahan masalah dari upaya pasukan oposisi yang terus menurun, merupakan cara dari pemerintah bentukan pihak oposisi dapat bertindak cara revolusional dan belajar membantu para pejabat untuk menjalankn roda pemerintah.
Namun tidak ada hal positif yang dapat diperoleh dalam pertemuan ini. "Mereka bersikap seperti anak kecil," ungkap Fathi Baja seorang pengamat politik yang menjadi ketua komite politik bentukan pihak oposisi seperti dikutip The New York Times, Senin (4/4). Masalah makin buruk karena ketiga tokoh tersebut bersikeras dengan pendapat mereka masing-masing. Pada akhirnya pertemuan pun berakhir tanpa ada hasil yang jelas.
Apa yang ditunjukan oleh tiga orang tersebut menunjukan pihak pasukan oposisi telah membahayakan pihak mereka sendiri. Kondisi saat ini tentunya dapat mengancam upaya revolusi yang tengah berlangsung. Tak pelak perpecahan yang diperlihatkan dapat membatalkan pihak asing yang hendak memberikan bantuan.
Setelah sempat ragu, pasukan angkatan udara Amerika Serikat, akhirnya menghentikan serbuan ke garis depan di Libya. Inggris, Prancis, dan sekutu NATO lainnya akan mengambil alih peran tersebut serta menyiapkan pasukan dan jet-jet tempur untuk memperkuat pelarangan zona terbang di negara Afrika Utara itu.Menurut pejabat NATO, pengambilalihan peran itu paling lambat Senin ini. "Tidak ada jurang pemisah," ujar seorang pejabat NATO yang tak bersedia disebutkan namanya.
Untuk diketahui, kekuatan udara Amerika Serikat, termasuk Air Force AC-130 dan Thunderbolts A-10, serta pesawat korps marinir AV-8B Harriers, akan disiapkan untuk mendukung sekutu jika diperlukan.Selama menggempur Libya, Amerika Serikat mengerahkan 90 hingga 226 pesawat tempur untuk bertempur bersama-sama angota NATO lainnya.